SEJARAH SINGKAT HMI

    Kelahiran HMI tidak dapat dilepaskan dari Lafran Pane yang karena jabatannya sebagai ketua III senat STI (Sekolah Tinggi Islam yang sekarang Universitas Islam Indonesia), ia sekaligus menjadi Pengurus Pusat PMY (Persatuan Mahasiswa Yogyakarta) untuk wilayah STI. Oleh karena itu, ditubuh STI waktu itu ada satu seksi yang disebut sebagai “Seksi PMY” yang diketua oleh Lafran Pane. Pengalaman Lafran Pane sebagai salah satu fungsionaris organisasi ekstra Universitas itulah yang kemudia mendorongnya membentuk satu organisasi ekstra yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa Islam.

    Pada tanggal 5 Februari 1947, bertempat disalah satu ruang kuliah STI di Jl. Setyodiningratan, Lafran Pane bersama 20 orang mahasiswa STI mengadakan pertemuan untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam yang diberi nama “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)”. Hasil pertemuan tersebut kemudia diajukan ke Rektor STI, KH. A. Kahar Muzakkir, dan mendapat sambutan yang sangat baik. Bahkan, konon KH. A. Kahar Muzakkir memberikan bantuan finansial setiap bulanya sebesar Rp. 25,- (dua puluh lima rupiah) untuk kelangsungan hidup organisasi tersebut. Pada perkembangannya, organisasi tersebut terus hidup dan berkembang luas yang tidak terbatas pada mahasiswa STI atau mahasiswa UII dikemudian hari, tetapi juga merambah ke berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik negeri maupun swasta. Sekembalinya pemerintah RI ke Jakarta, HMI ikut dipindahkan ke Jakarta yang diketuai oleh Lukman untuk beberapa bulan, kemudia diteruskan oleh A. Dahlan Ranuwihardjo.

    Hari ini tepat 62 tahun usia HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Setelah melewati hari-hari yang panjang HMI tetap kokoh berdiri tegak menjawab tantangan zaman. Organisasi perkaderan yang bersifat kemahasiswaan ini besar karena loyalitas perjuangan orang-orang yang ada didalamnya, suatu kebanggan tersendiri ketika dapat bergabung dengan orang yang memiliki semangat militansi perjuangan yang tinggi.

 

AWAL MASUK JOGJAKARTA

    Tahun 2004 saya menginjakkan kaki di tanah jawa tepatnya di Jogjakarta, yang terkenal dengan sebutan kota pelajar atau juga terkenal dengan kota Gudeg makanan khas Jogjakarta. Tepat jam 19.00 waktu Jogjakarta saya mendarat dengan selamat di Bandara Aji Sucipto Jogjakarta dengan selamat, dan dengan keadaan lutut dan lengan kanan ku yang masih luka akibat kecelakaan motor di kampong halamanku Kuala Enok INHIL-Riau.

    Kebingungan mulai melanda pikiran saya untuk memilih Universitas mana yang harus dipilih, mondar-mandir keluar-masuk kampus ikuti tes sana-sini, akhirnya saya diterima dua Universitas sekali gus. Lagi-lagi kebingungan memilih Universitas apa yang dipilih. Mendengarkan saran abang saya yang lebih condong ke UII (Universitas Islam Indonesia), akhirnya saya ikuti saran beliau untuk kuliah disana, makasih abang ku yang baik hati.

   Babak baru dimulai dengan mengenal kampus perjuangan UII, dimana UII memang didiriakan oleh funding fathrer para pejuang bangsa. Sayang banyak mahasiswanya tidak menyadari hal itu, ya memang UII sudah banyak berubah baik secara fisik dan kultur. Namun disamping itu semua saya tetap merasa bangga dan bahagia serta bersyukur kepada Allah SWT, karena telah mentakdirkan saya kuliah di UII dengan segenap kekurangan dan kelebihannya.

 

Mulai Mengenal Organisasi

    Hal yang melengkapi kebanggaan dan kebahagian itu adalah ketika saya ikut bergabung dengan HMI MPO, organisasi yang lahir di UII sungguh membuat saya seakan tidak percaya kalau saya menjalani semua ini. Awalnya saya anti dengan yang namanya HMI karena waktu itu pengetahuan saya masih dangkal tentang pergerakan dan HMI. Ditambah lagi dengan HMI yang katanya pecah menjadi dua membuat saya bingung. Malah sebelum saya bergabung dengan HMI MPO saya sempat menghujat HMI MPO dengan mengatakan anak haram dari HMI, namun kebencian itu akhirnya menjadi cinta yang mendalam dan rela menumpahkan pikiran, keringat serta darah demi membela HMI MPO, setelah saya mengenal dengan baik apa itu HMI?…

    Tahun ini merupakan tahun ke tiga saya menjadi kader HMI MPO, hari-hari yang panjang menuju HMI MPO adalah masa pencarian jati diri mencari organisasi yang sesuai dengan jiwa saya. Satu tahun lebih saya mencoba memahami arah gerak organisasi, saya coba memahami organisasi intra dan extra kampus, baik didalam UII maupun diluar UII. Saya sempat terlibat dengan masuk salah satu organisasi extra kampus, namun itu tidak berlangsung lama karena tidak sesuai dengan jiwa saya dan sifat mahasiswa yang seharusnya independent.

    Masuknya saya menjadi seorang HMI MPO sebenarnya tidak lepas dari orang-orang yang loyal terhadapa HMI MPO, dengan karakter ku yang tidak mudah untuk jatuh cinta langsung dan percaya terhadap suatu organisasi membuat proses masuk HMI MPO menjadi tarik ulur. Dengan kesabaran yang luar biasa seorang teman dapat menyadarkan saya bahwa jiwa saya adalah HMI MPO.

    Ada tiga kawan yang berperan besar dalam upaya mengenalkan saya kepada HMI MPO, yaitu adalah Kharisma Aji Mahastoto (Sekum HMI MPO KomFak TI dan Ketua Komisi II DPM UII), orang yang begitu sabar mengajak saya untuk masuk HMI, saya banyak belajar dengan kawan yang satu ini tentang dealektika dan komunikasi dalam organisasi, selanjutnya mas Denny Dwi Apriliano (Manta Ketua LEM UII 2006-2008), yang selalu memberikan motifasi kepada saya untuk percaya diri menjadi seorang pemimpin, dan Heni Wijayanti (Ketua LEM UII 2008-2009), yang pertama kali memberikan saya artikel-artikel tentang HMI MPO serta semangatnya yang selalu saya contoh loyalitas dalam organisasi.

    Dalam milad HMI yang ke 62 ini saya ucapakan terimakasih untuk sahabat saya, kawan saya dan saudara saya seperjuangan, kader-kader HMI MPO Komisariat Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, Kakanda dan Adinda, Imam Komisariat(Pak Memet), Dewan Penasehat Komi (Kanda Novril), Takmir Komi (Kanda iDank dan Ardhi), dan semua kader yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu-persatu.

    Demikian sedikit cerita tentang hari-hari panjang menuju HMI MPO, saya bukanlah seorang yang panatik terhadap sesuatu hal, pada dasarnya semua organisasi mahasiswa adalah baik, sama-sama memiliki landasan organisasi, dan kembali Kediri masing-masing apakah mau bergerak berjuang, karena sebagus apapun organisasinya kalau didalamnya tidak memiliki etos perjuangan yang tinggi maka sangat mungkin sekali organisasi tersebut diambang kehancuran.

    HMI MPO terbukti selama 62 tahun tetap berdiri tegak, silahkan saudara pembaca simpulkan masing-masing, saya tidak bilang bahwa HMI MPO yang terbaik, setaip organisasi memiliki kekurangan dan kelebihan.

Ya Allah Berkati...
Bahagia HMI….

Google search